Minggu, 30 Juni 2013

Kumbara Mencari Cinta #1



Hai guys,, masih setia aja nih melototin blog usang ini .. eheheh…  Kali ini otta hadir dengan sebuah kisah baru,, kisah cinta senior dan juniornya.  Kisah ini adalah salah satu kisah tentang  perjuangan seorang senior yang akan menaklukan seorang wanita super judes. Galak tapi menarik seperti magnet. Butuh pengorbanan xtra buat menaklukan sosok ini.  Simak langsung yuk guys… *soryagaksedikitacakacakan* hihiihihi….
Aku adalah seorang mahasiswa teknik yang cukup tenar di kampus terbaik ini. Banyak teman dan selalu tebar pesona adalah bakat terpendaku. Tinggi dan cukup handsome lah (kalo gue bergaya didepan cermin). Aku paling hobi nongkrong sambil main game di hall kampus. Intinya aku ini sosok laki – laki idama para wanita.  Bara, biasa aku dipanggil. Lengkapnya Kumbara Diantara Ilalang.
Semuanya berawal dari … hemmmm.....dari mana aku harus bercerita guys ? *bingung*
Berawal dari kebiasaan ku nongkrong di hall kampus, tak jauh beda dari biasanya guys. Hanya saja kali ini ada sosok cantik yang membuyarkan lamunanku. Berperawakan tinggi memancarkan pesona indah dalam dirinya. Entahlah siapa gerangan.
Wajahnya yang selalu mengusik ketenanganku cukup membuatku semakin tak jelas. Demi mencari sebuah kejelasan akhirnya ku jelajahi seisi kampus. Seperti agen penguntit dah beberapa minggu ini. Hanya demi sosok jutek itu. Kesana kemari ku mencari siapakah sosok jutek itu. Minggu pertama GAGAL.
Kegagalan tak menyurutkan niat awalku. Mencari siapa sosok jutek itu merupakan tugas utama di minggu ke-dua ini. Kembali bagaikan orang gila (bisalah dikata) hihihihi...
Terbang tinggu di udara... aku tau sapa dia (nyannyi,, hihihih)
Melati Menanti Hati. Nama yang unik. Setidaknnya cukup unik dibanding nama Kumbara Diantara Ilalang. Hihihihi.... perjuangan keras di minggu ke-dua ini cukup membawa pencerahan. Aku mendapatkan nama dan akun sosial medianya.
Kucoba mendekati lewat sosial media. Namanya juga sosok yang jutek, so banyak dijutekinnya nih... tak masalah buatku. Maju terus nabrak tembok :D hihihi.....
Cukup lama aku menaklukan sosok jutek itu, dipertengahan perjuanganku sedikit luluh kejutekannya itu. Seperti tanda akan ada cahaya terang dalam perjuanganku ini.
Singkat cerita nih ya, aku jungkir balik Cuma buat sosok jutek itu dah. Tapi hasilnya kalian tau ?
Dia sudah ada yang punya. Sungguh diluar dugaan. Tapi sebelum janur melengkung terpasang di depan rumahnya aku tetap harus berjuang. Berjuang demi masa depan hati ku ini. (dengan gaya sok keren di depan cermin.Inilah yang bisa dibilang sebagai pejantan tangguh. berawal dari pemuja rahasia dan berakhir dengan sebuah kegagalan. 
oke guys, itu sekelumit kisah Kumbara Diantara Ilalang yang harus move on dari si cewe jutek bernama Melati Menanti Hati. Ini baru part 1 guys.. masih ada perjuangan menaklukan hati berikutnya :D simak terus ya guys blog usang ini .. 
_salam damai dari otta_ 


Senin, 06 Mei 2013

Pahlawan Kecil dari Sekolah Luar Biasa


            Sore ini awan sedang tidak mengutus prajuritnya untuk membasahi seluruh ruas desa. Sedikit dingin namun aku yakin akan segera menjadi hangat setelah bintang menampakkan diri di atas latar biru yang teramat luas. Suasana cerah yang mampu melengkapi kebahagiaanku sore ini,  selain aku bisa mengajak seorang yang istimewa menikmati riuhnya pesta rakyat di lapangan sudut desa. Avicena. Salah seorang murid istemewaku.
            Aku dan Avicena bergurau kecil sembari terus menyusuri ruas jalan pedesaan. Sulit rasanya harus berjalan berdampingan dengan seorang anak yang tak dapat diam dan sulit untuk berkonsentrasi. Akan tetapi dengan clotehan-clotehan dan kesabaranku, aku mampu sedikit mengendalikan Avicena. Keyakinanku tuk menjadikannya sosok yang besar pun tak pernah padam. Entah, aku tak tau mengapa keyakinan itu ada. Mungkin karena ini salah satu naluriku sebagai seorang guru yang menginginkan anak didiknya menjadi sosok yang besar.
            Suara musik khas pasar rakyat pun sudah terdengar jelas pada telinga kami. Terus berjalan menuju gerbang besar berias lampu warna-warni. Sampai. Avicena begitu terpana dengan pasar rakyat. Mulai dari permainan – permainan yang ada, stand – stand yang menjual berbagai kebutuhan, sampai dengan berbagai makanan khas yang disajikan di pasar rakyat. Matanya membelalak kesemua arah. Rasa ingin tahunya semakin memuncak. Genggaman tangannya yang begitu erat akhirnya terlepas karena rasa keingintahuannya. Akupun tersadar ketika akan memberi tahu Avicena tentang komedi putar. Hilang.
            “Astagfirullah... kemana Avicena ?,” tanyaku dengan nada lemas.
            Avicena memang seperti ini. Berlari-lari dan kemudian menghilang. Tapi kali ini berbeda hilangnya. Aku takut. Perasaan dan fikiranku pun akhirnya terbalut oleh polutan-polutan su’uzon yang berlebihan.
            “Dimana dia pergi ?”
            “ketempat komedi putar atau ketempat penjual mainan atau jangan - jangan dia diculik ?”
            “Astagfirulloh.... Avicena...”
            “Avicena....Avicena....” triakku sembari menajamkan pandangan.
            “Sudahlah anak aneh seperti dia tak usah dicari. Kamu kan jadi tak repot lagi mengurus anak nakal itu,” cletuk salah seorang penjual martabak manis.
            “Buat apa kamu bersusah payah mencari dia ? mengajari dia pula. Apa kamu tak ingin hidupmu itu lebih bermanfaat bu guru ? percuma saja kamu melakukan semua ini, dia tak akan faham. Dia kan anak bodoh.” Kata penjual kembang gula yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan kontrakanku.
            “Suatu saat kalian akan bertrimakasih kepada Avicena.” Jawabku tegas.
            Terus berlari mencari seorang anak usia delapan tahun dengan pakaian biru, celana kotak - kotak dan berkalung botol minuman bergambar kartun. Menuju pusat informasi. Dia tak kan dapat mengerti apa yang disiarkan oleh petugas di pusat informasi itu. Pantang pulang sebelum bertemu Avicena.
            Hampir semua penjuru aku jamah. Tetap saja aku tak menemukan Avicena. Namun aku bukanlah seorang guru yang mudah menyerah. Mencari, mencari, dan mencari. Terus mencari.
            “Avicena....”, triakku kembali.
            Tak ada sahutan. Lihat. Sepertinya aku pernah melihat sosok yang berdiri di depan penjual harum manis itu. Avicena. Syukurlah aku menemukannya.
Cepat – cepat aku menuju grobag penjual harum manis itu. Kupeluk Avicena walaupun dia tak paham. Aku tak akan ambil resiko lagi. Kutarik tangan Avicena dan segera meninggalkan gemerlapnya pesta rakyat.
            “Bu guru, kenapa ibu terlihat lelah ?”
            “Iya, ibu tadi berlari mengelilingi pasar rakyat”
            “Harusnya ibu tadi ikut Avicena saja. Ketempat penjual harum manis di sudut lapangan agar ibu tidak begitu lelah”
            Aku hanya tersenyum menanggapinya. Sampai juga aku didepan rumah Avicena. Akupun kembali berjalan setelah mengantar Avicena pulang.
Tak terasa langkah kakiku mengantarkan hingga pintu kamar kontrakan. Langsung saja aku merebahkan badan di kasur kecil. Ngantuk dan lelah. Namun sulit mata ini dipejamkan. Teringat kata – kata penjual kembang gula di pesta rakyat tadi.
            Memang Avicena terlahir dengan sebuah keistimewaan. Avcena mengalami gangguan yang biasa disebut hiperaktif yang sulit berkonsentrasi. Sangat berbeda dengan anak – anak seusianya yang lain. Sehingga wajar saja Avicena hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat di desa. Tapi aku yakin kelak semua orang akan bertrimakasih kepadanya. Sedikit demi sedikit akhirnya mata ini menutup dan siap membuka tuk menatap esok yang cerah.
            Mentari menyapa pagiku dengan penuh harapan besar. Aku telah sampai di sekolah sepuluh menit sebelum anak-anak istimewaku datang. Mereka masuk kelas setelah bel berbunyi tanpa harus diatur seperti saat pertamakali mereka menjadi siswa baru di sekolah luar biasa ini.
            “Ada yang tau dimana Avicena ?” tanyaku pada anak-anak di kelas.
            “Avicena masih di sungai bu guru” cletuk salah seorang dikelas.
            “Apa yang dia lakukan di sungai sepagi ini ?”
            Segera aku menyusulnya. Diikuti oleh anak-anak akupun menuju sungai yang tak jauh dari belakang sekolah.
Grombolan warga desapun telah berada disana memadati pinggir sungai. Termasuk penjual kembang gula di pesta rakyat.
            “Ada apa ini ?” tanyaku pada sipenjual itu.
            “Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tapi aku yakin ini bukan mimpi bu guru. Ini lah yang kamu hasilkan.” Jawabnya sambil mengajakku berjabat tangan.
            Kaget. Tak percaya. Ini lah Avicena dengan alat sederhananya yang dia rakit seperti mesin pembuat harum manis. Alat yang mampu mengairi sawah – sawah penduduk desa dan mampu menjadi sumber tenaga air untuk pembangkit listrik.
            Kupeluk Avicena murid istimewaku yang dulu selalu di pandang sebelah mata oleh banyak masyarakat. Kini berubah. Trimakasih Avicena. Tepuk tanganpun diberikan tuk yang pertama kalinya dari masyarakat desa untuk pahlawan kecil dari sekolah luar biasa. Duniapun akan tahu tentang ini, Avicena.

-M.Qurrota A’yun-

Selasa, 30 Oktober 2012

surat kucel untuk si kriput cantik


Teruntuk Ibuku yang semakin mengkriput.
Sebelum aku menuangkan segalanya, ijinkan kubuka lembar surat ini dengan salam yang paling indah agar segala niatku mendapatkan Ridho dari Sang Maha Agung.
                                         السلام عليكم ورحمة الله وبركات
Ibu, ijinkan lembaran putih ini aku gores dengan sepenuh hati. Dengan begitu goresan – goresan  ini mampu mewakili semua isi hatiku. Tak kuat rasanya memendam semua ini sendiri saja. Dan besar harapanku melalui lembaran surat ini. Walau sebenarnya sangat sulit untukku menggores kata demi kata pada lembaran ini bila untaian kata yang tertuang ditujukan untuk Ibuku yang semakin mengkriput. Tapi keberanian ini kulakukan karena Ibu walau terkadang harus  tersendat dan mencekik hati saat mengingat semuanya.
Kini Ibu tak lagi cantik, karena kerutan-kerutan yang menggores wajah cantik itu kian hari semakin terlihat jelas. Namun dimataku wanita paling cantik tetaplah Ibu seorang. Sesungging senyuman yang Ibu berikan setiap kali aku berhasil melakukan sesuatu itu yang membuatku mampu melawan keletihan dan kebosananku. Senyuman yang menenangkan jiwa dan yang selalu memberikan semangat dalam diriku, sejak kakak lahir hingga aku memiliki seorang adik tak bisa lepas dari wajah Ibu yang semakin mengkriput itu.  Tapi kerutan-kerutan itu tak penting bagiku. Hanya lah goresan kerutan yang membuat wajah seperti ada lipatan – lipatan kecil saja. Yang sama sekali tidak mengurangi kemuliaan seorang Ibu. Dimataku hanya ada Ibu seorang yang mulia.
Di dalam hati yang nun jauh tempatnya hingga tak terlihat kasat mata ada perasaan yang sulit tuk kuungkapkan secara langsung. Bukan karena aku pengecut. Tapi karena perasaan itu ada untuk Ibu. Taukah kau perasaan apa itu, Ibu ? jika kau jawab itu perasaan sayangku yang paling dalam, itu salah. Bukan perasaan itu yang tersimpan dalam ruangan nan jauh di hati ini. Walau hanya sekitar satu persen saja  rasa itu tersimpan. Tetap saja rasa itu mengganjal sekali. Benci. Yaa... itu yang tersimpan. Sekarang kau tahu mengapa itu tersimpan, Ibu ? Rasa itu muncul setiap kali aku mendengar omelan-omelanmu, Ibu. Benci itu datang dan pergi begitu saja. Entah darimana perasaan itu muncul. Mungkin karena omelan-omelanmu jadi benci itu datang. Bahkan seketika wajahmu terlihat menakutkan saat ngomel, Ibu. Jangan marah Ibu. Aku jujur, mengatakan apa adanya tanpa ada satu kebohongan sedikitpun.
Kau juga harus tau Ibu. Setelah kau ngomel-ngomel membawa si benci itu datang, otakku ini berputar betapa anehnya diriku. Justru aku mengingginkan omelan-omelanmu terulang lagi. Bukan karena aku tidak konsisten. Tapi karena aku sadar bahwa seorang anak yang belajar di sekolah berlabel “madrasah” seperti aku ini tak pantas membenci Ibu. Selain itu juga karena sembilan puluh sembilan persen ada rasa sayangku padamu, Ibu. Rasa sayang itu yang meleburkan rasa benci dalam diriku ini.
Ibu, jika memang Ibu tak suka dan keberatan dengan surat yang aku tulis ini Ibu boleh meremas-remas surat ini kemudian lemparkan kedalam tong sampah. Namun sebaliknya jika Ibu senang dengan datangnya surat ini maka simpanlah surat ini dan peluklah aku saat aku kembali kerumah Ibu. Maafkan aku Ibu, beginilah caraku mengungkapkan betapa besarnya rasa cintaku padamu. Tak lupa aku mengucapkan trimakasih pada Ibu dan ku sudahi surat ini dengan salam penutup yang paling indah seperti salam pembuka surat ini. Trimakasih Ibu.
    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Putrimu yang selalu menyayangimu

Minggu, 28 Oktober 2012

La Tahzan


La Tahzan
Jika kau tak bermobil mewah
La Tahzan
Jika kau beralaskan tikar
La Tahzan
Jika kau hanya berdinding kardus
            Syukuri nikmat dari-Nya
            Di balik kesederhanaanmu
            Tersimpan kekayaan hatimu
            Sesungging senyummu adalah sedekah
            Lisan baikmu, juga sedekah
            Kebaikan yang kau perbuat, itu juga sedekah
Bagi kau yang bergelimpang harta
Maka celakalah !
Ketika hartamu membelenggu jiwamu
Ketika tanganmu terbelenggu pada lehermu
Ketika syetan memboikot nuranimu
            Tak lagi kau mengenal-Nya
            Kau menjadi budak nafsu keserakahanmu
            Demi dzat yang maha kaya
            Lagi maha pemurah
            Penerima segala taubat insan dunia 
-otta qurrota a’yun-