Minggu, 28 Oktober 2012

La Tahzan


La Tahzan
Jika kau tak bermobil mewah
La Tahzan
Jika kau beralaskan tikar
La Tahzan
Jika kau hanya berdinding kardus
            Syukuri nikmat dari-Nya
            Di balik kesederhanaanmu
            Tersimpan kekayaan hatimu
            Sesungging senyummu adalah sedekah
            Lisan baikmu, juga sedekah
            Kebaikan yang kau perbuat, itu juga sedekah
Bagi kau yang bergelimpang harta
Maka celakalah !
Ketika hartamu membelenggu jiwamu
Ketika tanganmu terbelenggu pada lehermu
Ketika syetan memboikot nuranimu
            Tak lagi kau mengenal-Nya
            Kau menjadi budak nafsu keserakahanmu
            Demi dzat yang maha kaya
            Lagi maha pemurah
            Penerima segala taubat insan dunia 
-otta qurrota a’yun-

Jumat, 26 Oktober 2012

nongol di youth speak jakarta post dulu ya...

salah satu goresan otta yang nongol di Youthspeak Jakarta Post pada edisi oktober 2011 volume 6 #10...

Kamis, 25 Oktober 2012

surat ini lolos dan diterbitkan dalam lomba "surat untuk presiden 2011" dengan judul buku "99 Pesan Kerinduan untuk Presiden"



Teruntuk Ayahanda Presiden
Di Istana Khalifah
Senduku di bawah untaian janji
Meski berat
Mesti kulakukan
Kupilih jalan yang ku yakini
Jangan paksakan yang tak kan mungkin
Hidupku mesti lurus dan benar...
Sebuah alunan lagu yang dipopulerkan oleh ayah ini mampu memberi suntikan imun keyakinan dalam setiap aliran darahku, menjadi pembuka surat istimewa khusus untuk Ayahanda Presiden di Istana Khalifah ini.
Teringat dalam kotak kecil ku saat usiaku 10 tahun. Sorak–sorai para pemuda dengan atribut warna–warni mengendarai sepeda motor mengelilingi kecamatan. Mungkin saat itu yang aku tahu hanya sekelompok masa melakukan arak – arakan. Namun saat ini usiaku telah genap 17 tahun, sudah bukan spekulasi “arak-arakan” lagi saat aku menemui sekelompok masa dengan atribut seperti itu. Di Madrasah Aliyah, aku mendapatkan pelajaran kewarganegaraan dan di Madrasah juga ada acara “pesta demokrasi”, pesta dimana pemilihan ketua OSIS dengan cara sama seperti pemilihan presiden.
            Mulai dari penentuan kandidat kemudian pengundian nomor urut kandidat dilanjutkan dengan kampanye dan orasi, debat formatur kandidat sampai masa tenang dan pemilu di laksanakan. Acara ini sangat memberikan gambaran bagaimana bernegara dan menjalankan undang –undang yang ada. Dari sinilah muncul pemikiran kritis dalam kotak kecilku yang tersimpan dibalik lapisan keras ini.
            Ayah, kau begitu tegar menegakkan dogma–dogma keadilan di tanah mewah ini. Namun apa daya semua itu ? ingatkah kau pada kalimat–kalimat yang dulu pernah ayah teriakkan, program–program yang dulu pernah ayah jadikan alas penarik hati masyarakat bahkan ayah tak lupa menuliskan semua itu pada poster–poster hingga kalender kecil, bagaimana nasip semua itu ? apakah untaian kalimat itu menjadi bagian dari masa lalu yang akan segera pudar dengan bergantinya waktu ?
            Kuharap tidak ayah. Tak ingin ku menatap ibu pertiwi ini menangis dan bersedih hati. Sulit untuk merealisasikannya, namun masih ada satu titik bahwa negeri ini harus bangkit dari keterbelengguan dan politik palsu ini.
            Seorang kawan mengatakan padaku seuntai kalimat yang begitu keras namun selembut kapas. “Surga akan menolakmu jika kau apatis pada hidup dan kehidupan di muka bumi ! Mengonversikan kebiasaan kita pada kebenaran Ilahi adalah jalan keluar termudah yang ditawarkan Tuhan”.
Ayah, oleh karena hatimu telah mengeras dengan tawa, emosi, dan ambisi, cobalah menyediakan sedikit waktu untuk berdiam diri, guna mencari seteguk dogma-dogma kebenaran.

Yogyakarta, 6 November 2011
Mauliddina Qurrota A’yun

Ibuku Bagaikan Radio Rusak


Malam ini sengaja aku tak keluar rumah. Enggan rasanya menikmati malam ketika grimis datang. Aluna saxaphone[1] Kenny-G favoritku menjadi soundtrack suasana malam ini. Kuteguk secangkir teh dan kunikmati bakpia[2] yang sejak beberapa menit tadi disuguhkan oleh adikku sebelum dia meninggalkan rumah. Rizqi. Seperti biasa, setiap sabtu malam Rizqi selalu bersepeda mengelilingi kota istimewa ini bersama dengan teman - teman satu komunitasnya.
Sepi dan sendiri. Kuambil handycam yang tergletak di meja kerja ayah. Aku membukanya perlahan.
“Kakak ayo buruan bangun sudah sore. Jadi jalan - jalan ke Kuta[3] gak ,”triak ibu yang sedang membereskan kamar.
“Ayo kita bangunkan si “ratu kapas”[4]..ehehe..”bisik Rizqi di depan handycam.
            Aku tersenyum kecil menikmati keusilan adikku dalam video amatir saat berlibur di pulau dewata itu. Rasa rindu akan kenangan itu, mendorongku untuk menikmati satu per satu video yang ada di handycam.
            “Kakak, jangan jajan sembarangan ya? Ibu sudah membawa kue kesukaan kakak lho...” Tegur ibu saat aku hendak membeli jajanan di daerah Monas.
            “Kakak, jangan lama-lama main airnya. Kasian adik kedinginan.” Triak ibu saat aku hendak  menikmati serunya meluncur bersama Rizqi di waterboom Jakarta.
            “Kakak, jaga adik ya.. yang rukun dan gak boleh boros. Ingat juga pesan ayah, jangan lupa baca quran setiap selesai sholat magrib minimal dua puluh menit.” Bisik ibu sembari memelukku sesaat sebelum terbang meninggalkan indonesia.
Video - video itu mengingatkanku akan sebuah kehangatan sebuah cinta yang tulus ikhlas. Aroma kerinduan semakin tajam dengan suasana yang begitu mendukung. Memang sejak seminggu lalu ayah dan ibu meninggalkan Indonesia untuk beberapa bulan kedepan.
            Aku terus memperhatikan bagian demi bagian dari video - video itu. Aku sangat merindukan clotehan - clotehan manis yang terdengar seperti radio tua yang sedang ada gangguan di bagian speakernya itu.
            Terdengar sangat mengganggu saat clotehan - clotehan itu menggema di telinga. Tapi justru clotehan - clotehan itulah yang selalu membuatku bersemangat meraih sebuah impian besar dalam hidupku. Terkesan aneh tapi begitulah adanya. Aku sangat merindukan clotehan - clotehan ibu yang ku sebut dengan clotehan manis dari radio rusak.

(Ditulis di kamar berukuran kecil ditemani sebungkus kuaci matahari favoritku dan sebotol jus serta beberapa potong roti bakar)
Yogyakarta, 15 Februari 2012


Biodata :
M.Qurrota A’yun adalah mahasiswa baru di Universitas Ahmad Dahlan jurusan Psikologi. Gadis periang ini  lahir pada tanggal 30 Agustus 1993 di Yogyakarta. Saat ini statusnya sedang menumpang di gubug orang tuanya di Mancasan WB2/696 Rt.40 Rw.09 Wirobrajan Yogyakarta. Selain itu gadis ini juga sedang belajar untuk menggores kalimat demi kalimat bersama kawan - kawan di Writing Revolution.



[1] Saxaphone adalah alat musik yang masuk dalam katagori aerophone, single-reed woodwind instrument. Biasa digunakan dalam musik jazz dan memiliki berbagai jenis dengan range yang berbeda.
[2] Bakpia adalah salah satu makanan khas kota Yogyakarta yang terbuat dari campuran kacang hijau dengan gula yang dibungkus tepung lalu di panggang.
[3] Kuta adalah salah satu pantai yang juga biasa disebut sebagai pantai matahari terbenam. Terletak di kabupaten badung sebelah selatan Denpasar, Bali.
[4] Ratu kapas adalah julukan dari adikku untuk aku karena salah satu kebiasaanku yang sulit dibangunkan saat tidur.

Kamis, 02 Februari 2012

naskah ini lolos dalam lomba menulis nasional dan di terbitkan dengan judul buku "Dalam Genggaman Tangan Tuhan"

 Alhamdulillah, Gempa !
Terdampar pada lorong waktu. Saat aku masih duduk di bangku kelas akhir sekolah dasar. Menunggu jarum jam di angka tujuh. Waktu dimana aku akan berperang melawan soal-soal ujian nasional. Itulah saat yang aku nanti. Ternyata Sang Penguasa tak sependapat denganku. Dia berkehendak lain.
            “Allahuakbar....Astagfirullahhaladzim...Allahuakbar..Subhanalloh..”,gemuruh riuh suara dibalik ruangan. Aku masih menikmati dinginnya air. 
            Duer....hruuuukkkk....hrukkkkk....
Bersamaan dengan suara itu, lampu mati. Aku tersadar.
            “Alhamdulillah... gempa !”, triakku sambil membuka pintu kamar mandi.
            Berlari keluar rumah. Tak semulus apa yang ada. Aku terjatuh. Berpegangan kursi makan, kodarulloh... justru kursi itu menimpaku. Ditambah figura didinding jatuh disisi kiriku. Namun aku tak pasrah begitu saja. Dengan terus berdzikir aku  merangkak sampai akhirnya aku bisa selamat dari pagi istimewa itu.
            Kecewa saat melihat sekitar. Rumah tak lagi kokoh. Trauma dengan suara besar menjangkiti anak-anak kecil. Namun aku bersyukur, semua keluargaku selamat dari pagi yang istimewa itu, walaupun ujian nasional yang harusnya pagi itu dilaksanakan terpaksa ditunda sepekan berikutnya. Sungguh inilah kebesaran-Nya.



Biodata :
FTS ini ditulis oleh M.Qurrota A’yun. Seorang pelajar  MAN Yogyakarta 1 yang lahir pada tanggal 30 Agustus 1993 di Yogyakarta. Saat ini statusnya sedang menumpang di gubug orang tuanya di Mancasan WB2/696 Rt.40 Rw.09 Wirobrajan Yogyakarta. Saat ini sedang belajar untuk menggores kalimat demi kalimat bersama kawan-kawan di Writing Revolution.

Kamis, 26 Januari 2012

Rahasia di balik Semesta

Hamparan biru mengangkasa
Surga bagi para burung simurg
Hamparan hijau mendunia
Zamrud khatulistiwa pun terbentang
Hamparan  air mengalir
Penuhi celah kehidupan
Ciptaan Sang Penguasa alam
            Percayalah..
            Hanya dengan enam masa
            Tanpa iblis dan anak cucunya
Dia ciptakan matahari dan bulan
            Dia ciptakan bumi juga tujuh lapis langit
Dia sebarkan hewan-hewan
Sebarkan semak ilalang tumbuhan
Juga sebarkan benih rizqi
Tuk melengkapi sebuah peradaban
Semua kan tunduk pada-Nya
            Kini Dia bersemayam di Arsy
            Dia lah sang Pencipta
            Sang Maha Tahu
            Atas segala rahasia kehidupan.

--M.Qurrota A’yun--

Kamis, 19 Januari 2012

Pena Tanpa Dendam

“ Tata...Tata... mau foto bareng dong.”
            “ Tata... tolong tandatanganin kaosku dong.”
            “ Iya sabar ya... satu – satu,” jawabku sambil terus menebar senyum dan memainkan jari-jari lentikku ini.
            Puluhan orang berkumpul memenuhi ruangan bahkan puluhan lainnya mengantri di luar ruangan. Siang ini batang hidungku  hampir tak terlihat karena tertutup oleh lautan manusia dalam acara bedah buku yang berjudul “Tuhan, Ijinkan Aku Membunuh Ibu”. Buku dengan tebal 190 halaman ini menjadi salah satu buku yang di cover depannya tertulis “best seller”. Disain cover yang berwarna dasar hitam dengan tuliasannya berwarna putih ini mampu membius puluhan bahkan ratusan orang untuk melesat tinggi menembus lapisan awan, terbang jauh bersama kumpulan pipit di angkasa, bebas temukan ide – ide konyol yang kan tertuang dalam goresan – goresan tajam yang menginspirasi dunia. Kepahitan dan keikhlasan mengantarkanku meraih sebuah kebahagiaan besar.
            Kebahagiaan ini berawal dari catatan harianku hingga akhirnya aku memberanikan diri menggores kata dalam sebuah alur crita kehidupanku. Berkali – kali naskahku ditolak media. Berkali – kali aku mengelus dada. Aku tetap tabah. Tak sedikit pun tergores kedendaman dalam hati. Tapi kali ini aku bisa tersenyum lebar menikmati sebuah perjuangan. Bahkan saking lebarnya aku tertawa, sebuah benda yang cukup keras menimpaku.
            Bruggghhh... aku terbangun kaget. Lemparan bantal dari tangan adikku pun meluncur membuyarkan kebahagiaanku di negri impian itu. Akupun berdiri sambil menguap menatap selembar kertas yang sengaja aku tempelkan di depan kasur kecilku. Kertas yang bertuliskan “PETA HIDUP TATA” itu lah yang selalu menyulutkan api semangat dalam diriku. Semangat tuk meraih satu demi satu target hidupku. Termasuk targetku tuk menerbitkan buku pertamaku di bulan Agustus 2012.